Friday, September 10, 2010
Username: Password: Register
Site Search: in:
Home Info Center File Library Photography Flight Sim Die Cast Public Relations Jobs Merchandise Wiki Weather Info Forum
Home » Info Center » Articles
Refleksi 40 Tahun Pendaratan Pertama Di Bulan
Sudiro Sumbodo, 7/19/2009 1:26:27 PM
 


"That's one small step for a man, one giant leap for mankind", kata-kata terkenal astronot Neil Armstrong menandai pertama kalinya manusia menginjakan kaki di bulan, sebuah impian lama manusia yang berhasil diwujudkan.

 

Pendaratan pertama di bulan dengan astronot Neil Armstrong, Edward “Buzz” Aldrin dan Michael Collins pada tanggal 20 Juli 1969 menandai klimaks teknologi antariksa saat itu. Wahana roket pelontar Apollo, Saturn V bahkan sampai saat ini masih terlihat sangat menakjubkan. Roket bertingkat tiga yang menjadi tumpuan mengantarkan modul komando Apollo memiliki tinggi 363 feet (sekitar 111 meter) berbobot dengan bahan bakar penuh mencapai lebih 3,000 ton dengan daya dorong mencapai 7.5 juta pon !

 

Saturn V seperti roket antariksa pada umumnya berbahan bakar hidrogen cair dan oksigen cair. Tapi bagi pendapat sebagian orang yang sinis, Perang Dingin (Cold War)-lah yang mentenagai Saturn V mencapai bulan.

 

Space Race
 

Sebuah pendapat yang tak bisa dibantah. Proyek Apollo (dan proyek antariksa sebelumnya) adalah  buntut ketakutan sekaligus usaha mendapatkan superioritas teknologi melawan kubu Uni Soviet. Negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat begitu kaget dan tercenggang melihat keberhasilan pemerintahan Nikita Khruschev meluncurkan Sputnik dan berhasil mengorbit menjadi satelit artifisial pertama pada Oktober 1957. Kembali lagi ditohok dengan keberhasilan kosmonot Yuri Gagarin sebagai orang pertama yang berhasil mengorbit empat tahun kemudian.

 

Periode saat itu disebut Perlombaan Antariksa (Space Race), prestise kedua kutub dunia, komunis dan kapitalis dipertaruhkan disini. Keberhasilan Uni Soviet bak tamparan yang menyakitkan, Amerika tertinggal jauh.

 

Kalau Uni Soviet memiliki Chief Designer Sergei Korolev, Amerika beruntung memiliki Werner von Braun yang siap menjalankan tugas badan penerbangan dan luar angkasa yang baru terbentuk tahun 1958, National Air & Space Administration (NASA) mengantarkan Amerika mengejar ketertinggalan setelah kegagalan roket Vanguard. Setahun setelah Sputnik I, satelit Explorer 1 dengan roket Juno meluncur ke luar angkasa. Beberapa bulan setelah Gagarin, astronot Alan Shepard melakukan penerbangan suborbital dengan Freedom 7 dengan roket Mercury.

 

Semua itu belum cukup. Dihadapan kongres pada tanggal 25 Mei 1961, Presiden terpilih John F. Kennedy demi mengejar ketertinggalan dari Uni Soviet berkata bahwa sebelum akhir 1960, Amerika harus bisa mengirim manusia ke bulan. Proyek antariksa kembali bergulir, John Glenn berhasil mengorbit bumi sekaligus menutup proyek Mercury. Periode Maret 1963-November 1966 merupakan tahun proyek Gemini dengan tujuan melatih astronot di luar angkasa yang mencakup sepuluh kali peluncuran sukses.

 

Pasca keberhasilan pendaratan pertama di bulan wahana nir awak Uni Soviet Luna 9 tahun 1966, kembali NASA menggulirkan proyek Apollo tahun 1967. Aspek teknis termasuk kesiapan pengujian roket Saturn dipertaruhkan disini. Terlalu percaya diri dengan proyek sebelumnya yang mulus minim kesalahan, Apollo 1 dibuka dengan tragedi fatal. Uji peluncuran tanggal 27 Januari 1967 terjadi kebakaran di modul komando dan menewaskan ketiga astronot.

 

Kematian tiga martir itu, Ed White, Gus Grissom dan Roger Chaffe tidak membuat gentar malah semakin membuat NASA jauh berhati-hati. Peluncuran tanpa awak, Apollo 2 s/d Apollo 6 dilakukan untuk mencegah kejadian terulang sekaligus untuk menguji kekuatan mesin pendorong. Baru pada tanggal 11 Oktober 1968, NASA berani meluncurkan Apollo 7 sampai kepada Apollo 10 yang berhasil melakukan perjalanan orbit sampai ke bulan.

 

Pendaratan Apollo 11 menjadi klimaks suatu perjalanan panjang dan melelahkan, sebagai bukti kedigdayaan Amerika Serikat dan terpenuhinya janji Kennedy. Apollo 11 diikuti kemudian dengan Apollo 12. Kegagalan pendaratan Apollo 13 tidak serta merta membatalkan Proyek Apollo. NASA kembali meluncurkan Apollo 14 berlanjut sampai ke-17, Desember 1972.

 

Pemimpin baru Uni Soviet, Leonid Brezhnev berbeda pandangan dengan pemimpin sebelumnya memutuskan untuk menghentikan rencana proyek peluncuran roket berawak Uni Soviet ke bulan pada tahun yang sama karena dianggap sia-sia saja mengejar ketertinggalan. Pada saat yang sama rencana Apollo 18 s/d 20 juga dibatalkan peluncurannya, kurangnya dukungan kongres dan publik menjadi alasan utama.

 

Eksplorasi
 

Dari sini saja sudah tampak terlihat bahwa perjalanan ekspedisi ke bulan sangat mahal bahkan untuk negara adidaya sekalipun. Tidak setimpalnya hasil bila dibandingkan biaya yang dikeluarkan membuat perjalanan kembali ke bulan kembali terhambat.

 

Era 1980-an dan awal 90-an, Space Race yang dilakukan Amerika Serikat, Uni Soviet, dan pendatang baru asal Eropa, Eropean Space Agency dengan roket Ariane jauh lebih membumi, lebih terasa manfaatnya bagi orang kebanyakan. Penempatan satelit komunikasi, satelit penginderaan dini (remote sensing), GPS/GLONASS, pesawat ulang alik (space shuttle), teleskop ruang angkasa Hubble, dan Space Lab Mir adalah contohnya. Tapi keinginan kembali ke bulan (Return To The Moon) masih menggebu-gebu, walau jelas publik masih kembali bertanya-tanya apakah manfaat yang dapat diambil atau sekedar nostalgia semata era 1970-an ?

 

Runtuhnya Uni Soviet (dan menjadi negara Rusia) sekaligus menandai berakhirnya Perang Dingin membalikan semua itu. Anggaran yang dulu dikucurkan dengan mudah demi alasan prestis berakhir. Proyek akhirnya hanya mandek sebatas konsep diatas kertas. Sebagai contoh rancangan NASA yang disusun tahun 1980-an dan diajukan pertengahan tahun 1992 era pemerintahan Presiden Bush dan Wapres Quayle mendapat tentangan hebat dari kongres.

 

Ada setidaknya tiga proyek yang dikerjakan nanti di bulan, yaitu penambangan isotop nuklir Helium-3 dan pemasangan kolektor surya sebagai proyek pencarian energi alternatif serta pemasangan teleskop Nirvana, yang dipastikan akan menghasilkan citra yang lebih baik dari teleskop orbit Hubble.

 

Terkesan muluk dan tak masuk akal karena itu berarti mau tidak mau harus mempersiapkan cukup banyak astronot atau dalam kata lain harus membangun koloni pekerja di bulan !  Tapi bagi para ilmuwan NASA, bukankah dulu perjalanan ke bulan juga dianggap muluk dan tak masuk akal ? Memang budget yang dialokasikan untuk NASA menurun jauh pasca runtuhnya Uni Soviet, tapi toh seandainya ada apakah publik mau menanggung kerugian jika gagal, mengingat ini akan menyerap dana dan resiko yang jauh lebih besar daripada proyek Apollo ?

 

Next Space Race (To Moon)

Meskipun kurang diapresiasi media seperti dulu, Space Race tahun-tahun ini sebenarnya cukup marak. Karena memang dana terbatas, peluncuran “hanya” sekedar orbiter nirawak untuk penelitian. Saat ini pemain Space Race tidak dimonopoli oleh dua negara semata saja. Eropa lewat ESA, Jepang, dan pemain baru yang mengejutkan, Cina dan India. Cina berhasil meluncurkan satelit Chang’e 1 tahun 2007 guna memetakan permukaan bulan, sementara ISRO (Indian Space Research Organisation) dengan Moon Impact Probe, Chandrayaan-1 berhasil mendarat di permukaan bulan tanggal 14 November 2008.

 

Dua negara bebuyutan yang dulu berkompetisi juga tidak mau kalah. Rusia berencana meluncurkan Luna-Glob pada tahun 2012 nanti. Sementara NASA telah lebih dulu meluncurkan LRO (Lunar Reconnaissance Orbiter) dengan roket Atlas V pada 18 Juni 2009. Orbiter ini bertugas memetakan bulan secara digital agar diketahui topografi yang jauh lebih detail.

 

NASA juga berencana kembali menempatkan astronot ke bulan. Jika tidak ada halangan yang berarti akan meluncur pada tahun 2019. Lewat proyek Constellation, NASA akan membuat modul komando Orion yang mampu menampung 4-6 astronot. Rencananya roket peluncur baru akan dibangun yaitu Ares I yang berdimensi sedikit lebih pendek dari Saturn V.  Sesuai namanya, roket ini bertujuan untuk misi ke Mars tapi akan dipakai terlebih dahulu untuk ekspedisi ke bulan. Kelak NASA juga akan membangun Ares V yang bisa disebut sebagai roket peluncur terbesar di dunia untuk mengangkut kargo.

 

Dalam satu wawancara, Neil Armstrong pernah berujar bahwa perjalanan ke bulan sebenarnya makin mudah (dengan kemajuan teknologi) jika dibandingkan generasinya dulu. Tak heran badan swasta, perusahaan atau perorangan juga berniat ikut dalam Space Race ini. Google bahkan telah menyediakan hadiah sebesar 30 juta dollar Lunar X-Prize bagi siapapun yang berhasil mendaratkan modul rancangannya di permukaan bulan.

 

Mereka-mereka inilah yang ingin menunjukan bahwa tanpa Perang Dingin sekalipun, ekspedisi ke bulan tetap harus dan bisa dilaksanakan. Ternyata bulan memiliki sisi magis yang selalu ingin mengundang manusia untuk menjelajahi dan mengeksplorasi. Bulan akan menjadi pijakan dan langkah pertama bagi penjelajahan dan koloni manusia ke luar angkasa. Bukankah seperti kata pepatah, perjalanan jauh selalu dimulai dengan satu langkah ? (Sudiro Sumbodo, Jakarta, 2009)

 

Referensi :

  1. Angkasa, “Misi Kembali Ke Bulan : Memperdebatkan Impian Dan Realitas”, No. 9 Juni 1992
  2. Angkasa, “Tragedi Apollo 13”, No.3 Desember 1995
  3. Gatland Kenneth, The Young Scientist Book Of Space Flight, Usborne Publishing, 1975.
  4. Irons-Georges, Tracy, Encyclopedia of Flight, Salem Press, 2002

 

Internet :

  1. Ares: NASA's New Rockets Get Names, http://www.nasa.gov/mission_pages/constellation/ares/ares_naming.html
  2. Google Lunar X-Prize, http://www.googlelunarxprize.org/
  3. LRO's First Moon Images, http://www.nasa.gov/mission_pages/LRO/multimedia/lroimages/lroc_20090702_a.html

 

 

© 2008 indoflyer.net
Terms & Conditions Privacy Policy About Indoflyer Contact Us Sitemap
 
6